5 Fakta Menarik Seputar Hujan

Science | SangMurid, Aug 16 2020

1. Aroma Hujan

 

Saat tetesan hujan baru menyentuh permukaan tanah, seringkali kita merasakan aroma udara yang begitu khas. Bukan berasal dari air hujan, namun aroma ini berasal dari tanah yang lembab. Seorang ilmuwan Australia menjelaskan proses munculnya aroma khas yang biasa disebut sebagai petrichor. 

 

Petrichor berasal dari berbagai senyawa kimia yang harum, yang berasal dari tanah dan tanaman yang mengandung actinobacteria. Actinobacteria menghasilkan sebuah senyawa organic yang disebut sebagai geosmin yang sangat berpengaruh pada munculnya aroma petrichor. Hidung manusia dapat mendeteksi aroma geosmin bahkan pada konsentrasi yang rendah. 

 

Geosmin sangat bergantung pada aktivitas Actinobacteria yang ditentukan oleh tingkat kelembaban tanah. Saat tanah kering, aktivitas dekomposisi aktinobakteri melambat. Sedangkan sesaat sebelum terjadi hujan, maka kelembaban udara akan meningkat, tanah mulai lembab, dan aktivitas dekomposisi aktinobakteri meningkat.

 

Ketika aktivitas dekomposisi aktinobakteri meningkat maka artinya konsentrasi geosmin akan meningkat pula. Dan saat hujan menyentuh permukaan tanah, maka hujan akan mendorong gas yang mengandung geosmin dari tanah menuju udara, sehingga terciumlah aroma petrichor oleh hidung kita. 

     

2. Bentuk Tetesan Hujan

 

Bentuk tetesan hujan yang populer digambarkan adalah berbentuk tetesan air ataupun seperti tetesan air mata. Sayangnya, ternyata bentuk tetesan hujan tidak seperti itu. Bentuk tetesan hujan tergantung pada ukuran diameter tetesan hujan. Jika diameter kurang dari 2 milimeter, maka tetesan berbentuk hampir bulat sempurna.

 

Sedangkan jika diameter tetesan lebih dari 2 milimeter, maka tetesan hujan akan berbentuk sedikit memanjang, pipih di bagian bawah, dan bulat di atas, seperti jamur atau bahkan roti hamburger. Hal ini terjadi karena saat tetesan hujan jatuh, bagian bawah tetesan akan terkena tekanan udara paling besar dibandingkan dengan bagian sisi-sisi tetesan. Sehingga bagian bawah tetesan akan memipih, dan sisi-sisinya melebar.

 


3.  Hujan yang Tidak Membasahi Bumi

 

Bukan karena permukaan Buminya yang anti-air, tapi hal ini terjadi karena hujan yang turun dari awan berevaporasi (menguap) sebelum sampai ke permukaan. Fenomena ini disebut sebagai Virga, yang dalam bahasa Latin berarti ranting atau cabang. Fenomena Virga banyak terjadi di daerah iklim kering, dengan temperatur tinggi dan kelembaban yang rendah.

 


4. Tempat Terbasah dan Terkering di Bumi

 

Dalam dunia seorang meteorologist, suatu tempat biasanya dibagi menjadi beberapa tingkat “kebasahan” yang ditentukan berdasarkan jumlah rata-rata presipitasi tahunannya. Jumlah presipitasi ‒dalam hal ini hujan‒ diukur dalam satuan millimeter atau inch. 

 

Tempat terbasah di bumi berlokasi di Mawsynram, India. Rataan curah hujan tahunan di wilayah ini mencapai 11.872 milimeter. Lokasi Mawsynram yang berada di pegunungan memaksa angin monsoon hangat bergerak ke utara ke arah pegunungan dari Teluk Benggala untuk menyatu di atas Mawsynram, sehingga menyebabkan hujan dengan frekuensi dan intensitas yang sangat tinggi. 

 

Bagaimana dengan Indonesia? Pada November 2018 yang lalu BMKG membuat sebuah laporan berjudul Tempat Terbasah di Dunia ada di Indonesia. BMKG menyebutkan wilayah Mile 50 atau MP50 di Kecamatan Tembagapura, Papua, berpotensi menjadi daerah dengan rataan curah hujan tahunan tertinggi di dunia. Berdasarkan data curah hujan selama 21 tahun pada periode 1994-2011 dan 2016-2018, rataan curah hujan tahunan di MP50 mencapai 12143 milimeter, dengan jumlah hari hujan sebanyak 329 hari. Jumlah curah hujan tersebut melampaui curah hujan di Mawsynram, India.

 

Sementara itu tempat terkering di bumi berada di Arica, Chili, dengan rataan curah hujan tahunan tidak sampai 1 milimeter per tahun. Menakjubkan. Sebagai perbandingan, tempat terkering di Indonesia berada di NTT dengan rataan curah hujan tahunan berada di rentang 900-1200 milimeter per tahun. Sementara itu Jakarta memiliki rataan curah hujan sekitar 3000-3500 milimeter per tahun. 

 

5. Kecepatan Tetesan Hujan 

 

Kecepatan tetesan hujan sangatlah bervariasi tergantung pada diameter tetesan hujan dan kondisi tekanan udara. Namun jika rata-rata diameter hujan adalah sebesar 6 milimeter atau kira-kira sebesar ukuran butir kacang hijau, maka rata-rata kecepatan hujan adalah sebesar 10 meter per detik. Jika diasumsikan kecepatan hujan sebesar 10 m/s dan jarak awan hujan ke permukaan bumi adalah setinggi 3000 meter maka butuh waktu kira-kira 5 menit tetesan hujan untuk sampai ke permukaan bumi. 

 

 

Sumber: kumparan.com
 

Sejarah Komputer Berasal Algoritma

Bumi Ini Bulat atau Datar?

Keajaiban Tulang Ekor “The Primary Organizer”

Kamera Foto

Flag Counter